amat samawa – Saat bulan Ramadan tiba, istilah takjil dan ifthar kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama saat membahas menu berbuka puasa. Namun, banyak orang masih keliru dalam memahami perbedaan di antara keduanya. Beberapa menganggap takjil sebagai makanan pembuka berbuka puasa, sementara ifthar identik dengan hidangan utama. Padahal, secara bahasa dan makna, kedua istilah ini memiliki arti yang cukup berbeda. Yuk, kita kupas lebih dalam agar tidak lagi keliru!
Secara etimologi, kata takjil berasal dari bahasa Arab ‘ajjala-yu’ajjilu yang berarti “menyegerakan” atau “mempercepat”. Dalam konteks puasa Ramadan, takjil merujuk pada tindakan menyegerakan berbuka puasa sesuai sunnah Rasulullah SAW. Jadi, secara harfiah, takjil bukanlah makanan, melainkan perbuatan menyegerakan berbuka puasa.
Rasulullah SAW bersabda:
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
“Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa ada anjuran kuat dalam Islam untuk tidak menunda berbuka puasa ketika waktunya telah tiba. Dengan kata lain, takjil lebih menekankan pada tindakan berbuka secara cepat, bukan pada jenis makanan tertentu.
Seiring berjalannya waktu, banyak orang menganggap takjil sebagai makanan ringan berbuka puasa, seperti kurma, kolak, atau es buah. Hal ini kemungkinan besar terjadi karena Nabi Muhammad SAW menganjurkan berbuka puasa dengan kurma atau air putih sebelum melanjutkan dengan hidangan utama. Namun, pemahaman ini kurang tepat karena takjil sebenarnya adalah tindakan berbuka lebih awal, bukan makanan itu sendiri.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Jadi, jika seseorang berbuka dengan seteguk air, ia sudah melakukan takjil. Makanan yang dikonsumsi dalam proses ini seharusnya disebut sebagai “makanan pembuka” atau “hidangan berbuka”.
Berbeda dengan takjil, istilah ifthar berasal dari kata afthara-yufthiru yang berarti “berbuka puasa” atau “makan dan minum setelah berpuasa”. Dalam konteks Ramadan, ifthar merujuk pada seluruh rangkaian makanan yang dikonsumsi setelah adzan Maghrib berkumandang.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ifthar berarti “berbuka puasa” secara umum. Berbeda dengan takjil yang hanya menekankan pada menyegerakan berbuka, ifthar mencakup seluruh makanan yang dikonsumsi, baik itu camilan ringan maupun hidangan utama.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian berbuka puasa, hendaklah ia berbuka dengan kurma. Jika tidak ada kurma, maka dengan air, karena air itu suci.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)
Hadis ini menjelaskan bahwa berbuka puasa diawali dengan sesuatu yang ringan sebelum menikmati makanan besar. Proses awal ini adalah takjil, sementara makanan selanjutnya termasuk dalam kategori ifthar.
Jika dirangkum, berikut adalah perbedaan utama antara takjil dan ifthar:
| Aspek | Takjil | Ifthar |
|---|---|---|
| Makna | Menyegerakan berbuka puasa | Seluruh rangkaian berbuka puasa |
| Jenis | Tindakan menyegerakan berbuka | Makanan dan minuman yang dikonsumsi setelah berbuka |
| Contoh | Berbuka dengan seteguk air atau kurma | Seluruh makanan berbuka, termasuk hidangan utama |
Takjil dan ifthar memang sering digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari, tetapi keduanya memiliki makna yang berbeda. Takjil merujuk pada tindakan menyegerakan berbuka puasa, sedangkan ifthar mencakup seluruh makanan yang dikonsumsi setelah berbuka. Dengan memahami perbedaannya, kita dapat menggunakan kedua istilah ini dengan lebih tepat sesuai dengan makna aslinya dalam Islam.
Jadi, saat bulan Ramadan tiba, pastikan kita tidak lagi keliru dalam menggunakan kata takjil dan ifthar. Semoga artikel ini bermanfaat dan membantu kita lebih memahami ajaran Islam dengan lebih baik. Selamat menunaikan ibadah puasa! 😊
Warisan Inspirasi Untuk Keluarga Indonesia