Amat samawa – Nabi Muhammad Membelah Bulan dalam sejarah Islam, terdapat berbagai mukjizat luar biasa yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bukti kerasulannya. Salah satu mukjizat yang paling spektakuler adalah peristiwa terbelahnya bulan. Peristiwa ini terjadi di hadapan penduduk Makkah, termasuk kaum Quraisy yang kala itu masih ragu terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Mukjizat ini diabadikan dalam firman Allah dalam Surah Al-Qamar ayat 1-2:
“Telah dekat datangnya saat itu dan bulan pun telah terbelah. Dan jika mereka melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, ‘(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.’” (QS. Al-Qamar: 1-2)
Peristiwa ini juga disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA:
“Sesungguhnya, penduduk Makkah pernah meminta kepada Rasulullah SAW supaya memperlihatkan tanda bukti kepada mereka. Maka, beliau memperlihatkan bulan yang terbelah dua hingga Gunung Hira dapat terlihat di antara kedua belahannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Kisah ini menjadi bukti nyata kekuasaan Allah SWT yang ditunjukkan melalui Rasul-Nya. Namun, bagaimana detail peristiwa ini terjadi? Berikut penjelasannya.
Dikisahkan dalam kitab Durratun Nasihin, pada masa itu terdapat seorang raja dari Syam bernama Habib bin Malik. Ia dikenal sebagai pemimpin yang sangat fanatik terhadap penyembahan berhala. Suatu hari, ia menerima surat dari Abu Jahal yang berisi tentang kehadiran agama baru yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Penasaran dengan ajaran tersebut, Raja Habib bin Malik memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Makkah dengan membawa 12.000 pengikutnya.
Setibanya di perbatasan kota, ia mengirim utusan kepada Abu Jahal untuk mengabarkan bahwa dirinya telah tiba. Penduduk Makkah, termasuk kaum Quraisy, merasa senang karena mereka mengira kedatangan raja ini akan membantu mereka menentang Nabi Muhammad SAW.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Ketika Raja Habib bin Malik bertanya tentang sosok Rasulullah, seorang dari Bani Hasyim menjelaskan bahwa beliau adalah seseorang yang sejak kecil dikenal sebagai pribadi yang jujur dan dapat dipercaya. Namun, setelah mencapai usia 40 tahun, beliau mulai menyebarkan ajaran baru yang berbeda dari keyakinan nenek moyang mereka.
Dalam pertemuan tersebut, Nabi Muhammad SAW hadir mengenakan jubah merah dan sorban hitam, didampingi oleh Siti Khadijah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika beliau duduk di hadapan raja, wajahnya memancarkan cahaya yang luar biasa, membuat semua yang hadir terpesona.
Raja Habib bin Malik meminta bukti kenabian Rasulullah SAW. Ia menantang beliau untuk menunjukkan mukjizat yang luar biasa, seraya berkata:
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
“Jika benar engkau seorang nabi, maka tunjukkan kepadaku tanda kebesaran Tuhanmu. Tenggelamkan matahari dan gantikan dengan bulan. Kemudian, belah bulan itu menjadi dua bagian, turunkan ke bumi, masukkan ke dalam lengan kanan dan kiri, lalu keluarkan kembali dan satukan kembali seperti sediakala. Setelah itu, perintahkan bulan untuk mengakui kerasulanmu.”
Tantangan ini disambut dengan penuh keyakinan oleh Rasulullah SAW. Sementara itu, Abu Jahal merasa gembira karena ia yakin Nabi tidak akan mampu melaksanakan permintaan tersebut.
Nabi Muhammad SAW kemudian menuju Gunung Abi Qubais, yang terletak dekat dengan Masjidil Haram, dan melaksanakan shalat dua rakaat. Beliau mengangkat tangan dan berdoa kepada Allah SWT agar permintaan raja dikabulkan. Tiba-tiba, 12.000 malaikat turun membawa kabar dari Allah bahwa mukjizat ini telah ditetapkan sejak zaman azali.
Allah SWT tidak hanya akan membelah bulan, tetapi juga telah menyembuhkan putri Raja Habib bin Malik yang sebelumnya buta, lumpuh, dan tidak memiliki tangan. Peristiwa ini adalah tanda kebesaran Allah yang tak terbantahkan.
Ketika Nabi Muhammad SAW kembali ke hadapan raja, matahari mulai tenggelam dan bulan pun muncul di langit. Rasulullah SAW lalu mengangkat tangannya dan dengan izin Allah, bulan pun terbelah menjadi dua bagian. Gunung Hira terlihat jelas di antara kedua belahan bulan yang terpisah.
Dengan isyarat jari, Rasulullah SAW memerintahkan bulan untuk turun. Kedua bagian bulan itu perlahan-lahan bergerak mendekati beliau, diiringi oleh suara gemuruh yang mengguncang bumi. Sesuai dengan permintaan raja, Nabi Muhammad SAW memasukkan bagian bulan ke dalam lengan kanan dan kirinya. Kemudian, beliau mengeluarkan kembali kedua belahan bulan tersebut dan menyatukannya kembali.
Tak hanya itu, bulan yang telah kembali ke tempatnya di langit bersaksi:
“Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”
Menyaksikan kejadian ini, seluruh hadirin terperangah. Raja Habib bin Malik dan para pengikutnya takjub. Mereka sadar bahwa mukjizat ini bukan sihir, melainkan tanda kebesaran Allah.
Setelah melihat keajaiban tersebut, Raja Habib bin Malik segera bersujud dan mengucapkan syahadat. Ia mengajak seluruh pengikutnya untuk meninggalkan penyembahan berhala dan masuk Islam.
Namun, Abu Jahal tetap keras hati dan menuduh bahwa semua ini hanyalah sihir. Ia berusaha mempengaruhi orang-orang agar tidak mempercayai Rasulullah. Meskipun demikian, semakin banyak orang yang beriman setelah menyaksikan mukjizat ini.
Setelah kembali ke istana, Raja Habib bin Malik dikejutkan oleh keajaiban lainnya: putrinya yang sebelumnya cacat kini telah sembuh total. Ia dapat berjalan, melihat, dan menggunakan tangannya dengan sempurna. Putrinya pun menyampaikan bahwa ia telah bermimpi bertemu dengan seorang pria bercahaya yang memerintahkan untuk mengucapkan syahadat agar mendapatkan kesembuhan.
Melihat semua tanda kebesaran Allah ini, Raja Habib bin Malik semakin yakin bahwa Islam adalah agama yang benar. Ia dan seluruh keluarganya pun masuk Islam dan menjadi pengikut setia Rasulullah SAW.
Kisah mukjizat Nabi Muhammad SAW membelah bulan menjadi salah satu bukti nyata kebesaran Allah SWT dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Mukjizat ini bukan sekadar legenda, tetapi sebuah peristiwa yang tercatat dalam Al-Qur’an dan hadits shahih.
Allah SWT berfirman:
“Telah dekat Hari Kiamat, dan bulan pun telah terbelah.” (QS. Al-Qamar: 1)
Sebagai umat Islam, kita harus meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Mukjizat ini menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Semoga kisah ini semakin menguatkan iman kita kepada Allah dan Rasul-Nya serta menjadikan kita semakin teguh dalam menjalankan ajaran Islam. Aamiin.
Warisan Inspirasi Untuk Keluarga Indonesia