Amatsamawa – Nabi Muhammad SAW adalah manusia pilihan yang sejak sebelum diangkat menjadi Rasul sudah menunjukkan banyak keistimewaan. Lahir dari keluarga terhormat di suku Quraisy, beliau dikenal memiliki akhlak yang mulia, kecerdasan, serta sifat jujur dan amanah. Semua hal ini bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari ketetapan Allah SWT dalam mempersiapkan seorang nabi terakhir bagi umat manusia. Artikel ini akan mengulas perjalanan hidup Nabi Muhammad sebelum beliau menerima wahyu pertama, termasuk tanda-tanda kenabian yang telah tampak sejak kecil.
Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah, atau sekitar tahun 570 Masehi. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat sebelum beliau lahir, meninggalkan ibunya, Aminah binti Wahab, dalam kesedihan. Saat melahirkan, Aminah didampingi oleh seorang pembantu bernama Asy-Syifa dan setelah kelahirannya, bayi Muhammad langsung dibawa oleh sang kakek, Abdul Muthalib, untuk diberikan nama di depan Ka’bah.
Nama “Muhammad” yang diberikan kepada beliau memiliki makna “yang terpuji”, seakan menjadi pertanda bahwa beliau kelak akan menjadi manusia yang dicintai dan dimuliakan oleh banyak orang. Sejak kecil, beliau telah mengalami banyak ujian, termasuk kehilangan ibunya pada usia enam tahun dan kemudian kehilangan sang kakek yang merawatnya. Akhirnya, beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib, yang dengan penuh kasih membesarkannya hingga dewasa.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Sejak kecil, Nabi Muhammad menunjukkan karakter yang sangat berbeda dari anak-anak seusianya. Beliau terkenal dengan kejujuran dan integritasnya, sehingga masyarakat Mekah memberinya gelar Al-Amin (yang terpercaya).
Ketika beranjak dewasa, beliau bekerja sebagai pedagang. Kejujurannya dalam berdagang menarik perhatian seorang wanita bangsawan bernama Khadijah binti Khuwailid, yang akhirnya mempercayakan dagangannya kepada beliau. Dengan kecerdikan dan kejujurannya, Nabi Muhammad berhasil membawa keuntungan besar bagi Khadijah, yang pada akhirnya membuatnya semakin terkesan dan akhirnya menikah dengan beliau.
Selain dikenal sebagai pedagang yang sukses, Nabi Muhammad juga sering menyendiri dan merenung. Beliau sering pergi ke Gua Hira untuk mencari ketenangan dan mendekatkan diri kepada Allah. Kebiasaannya ini semakin meningkat menjelang turunnya wahyu pertama.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad mulai mengalami kejadian-kejadian luar biasa yang menandakan bahwa beliau akan menerima tugas besar dari Allah SWT. Salah satunya adalah adanya batu di Mekah yang memberikan salam kepada beliau. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah bersabda:
“Sungguh, aku mengetahui ada sebuah batu di daerah Mekah yang selalu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diangkat menjadi Rasul. Aku masih mengenalnya hingga sekarang.”
Selain itu, beliau juga sering mengalami mimpi-mimpi yang nyata. Aisyah Radhiyallahu anha meriwayatkan bahwa wahyu pertama kali datang melalui mimpi yang selalu menjadi kenyataan, sebagaimana cahaya subuh yang terang.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Ketika Nabi Muhammad berusia 40 tahun, beliau semakin sering berkhalwat (menyendiri) di Gua Hira untuk beribadah dan merenung. Hingga suatu malam, datanglah malaikat Jibril membawa wahyu pertama dari Allah SWT.
Jibril mendekati beliau dan berkata:
“Iqra’ (Bacalah)!”
Nabi Muhammad yang tidak bisa membaca menjawab, “Saya tidak bisa membaca.”
Malaikat Jibril kemudian memeluk beliau dengan erat hingga terasa sesak, lalu melepaskannya dan kembali memerintah, “Bacalah!”
Hal ini terjadi tiga kali hingga akhirnya Jibril menyampaikan firman Allah SWT:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Setelah menerima wahyu pertama ini, Nabi Muhammad pulang ke rumah dengan perasaan takut dan gemetar. Beliau meminta istrinya, Khadijah, untuk menyelimutinya. Dengan penuh kasih sayang, Khadijah menenangkan beliau dan meyakinkan bahwa Allah SWT tidak akan membiarkannya dalam ketakutan.
Khadijah menjadi sosok penting dalam perjalanan awal kenabian. Beliau tidak hanya menenangkan Nabi Muhammad, tetapi juga membawanya kepada seorang pendeta Nasrani bernama Waraqah bin Naufal, yang merupakan sepupu Khadijah. Waraqah mengonfirmasi bahwa wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad berasal dari Allah dan menandakan bahwa beliau adalah seorang Rasul.
Namun, Waraqah juga memperingatkan bahwa Nabi Muhammad akan menghadapi banyak tantangan dan perlawanan dari kaumnya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya yang juga mendapatkan penentangan dari masyarakatnya.
Kisah Nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul penuh dengan kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau adalah manusia pilihan Allah SWT. Dari sejak lahir, beliau sudah menunjukkan banyak keistimewaan, mulai dari keteguhan hati, kejujuran, hingga kepeduliannya terhadap sesama.
Peristiwa turunnya wahyu pertama bukan hanya sebuah titik balik dalam hidup Nabi Muhammad, tetapi juga awal dari perubahan besar dalam sejarah umat manusia. Keberanian, kesabaran, dan keimanan beliau dalam menyampaikan ajaran Islam menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tetap teguh dalam kebaikan dan berpegang pada nilai-nilai kebenaran.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari perjalanan hidup Rasulullah dan senantiasa meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Wallahu a’lam bishawab.
Warisan Inspirasi Untuk Keluarga Indonesia