Mengapa hati berubah setelah mendengar nasihat? begini penjelasannya – Ibn Al-Jauzi rahimahullah dalam karyanya Shayd Al-Khatir, pada bagian yang membahas tentang mau’izhah (nasihat) dan pengaruhnya terhadap para pendengar, menjelaskan bahwa sering kali seseorang merasakan getaran keimanan saat mendengar nasihat. Hatinya seakan tersentuh dan tergerak untuk berubah. Namun, begitu ia keluar dari majelis tersebut, perasaan itu perlahan memudar, dan ia kembali pada kebiasaan lama, terjebak dalam kelalaian serta kekerasan hati.
Setelah merenungkan fenomena ini, Ibn Al-Jauzi rahimahullah menemukan dua alasan utama yang menjadi penyebabnya:
Nasihat itu seperti cambuk—saat diterima, ia memberikan dampak yang kuat, bahkan menyakitkan bagi hati yang lalai. Namun, seiring waktu, efeknya berkurang dan perlahan-lahan memudar.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Ketika seseorang tengah mendengarkan nasihat, hatinya dalam kondisi terbuka dan fokusnya sepenuhnya tertuju pada pesan yang disampaikan. Pada saat itu, ia mengesampingkan urusan dunia dan hanya berkonsentrasi pada kebaikan yang ia dengarkan. Namun, setelah kembali ke rutinitas sehari-hari, perhatiannya mulai tersita oleh hiruk-pikuk dunia, hingga nasihat yang tadi begitu menggugah perlahan kehilangan cengkeramannya.
Ibn Al-Jauzi rahimahullah menjelaskan bahwa kebanyakan orang mengalami fenomena ini. Namun, tingkat kepekaan hati mereka terhadap nasihat berbeda-beda.
Ada yang memiliki keteguhan hati sehingga segera bertindak setelah mendapatkan peringatan. Mereka bahkan merasa gelisah jika keimanan mereka menurun, sebagaimana yang dialami oleh Hanzhalah yang merasa dirinya munafik ketika menyadari adanya kelalaian dalam hatinya.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Ada pula yang keimanannya berfluktuasi, kadang menguat, kadang melemah—bagaikan tangkai gandum yang bergerak mengikuti arah angin.
Sementara itu, sebagian lainnya hanya merasakan dampak nasihat secara sementara. Hati mereka seperti batu yang dialiri air—air tersebut melewati permukaannya, namun tak meresap ke dalam.
Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa naik-turunnya keimanan bukanlah tanda kemunafikan, melainkan bagian dari sifat alami manusia.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Ada saat di mana seseorang begitu bersemangat dalam beribadah, mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, dan menjalankan perintah-Nya dengan penuh kesungguhan. Pada saat-saat seperti ini, sebaiknya ia memanfaatkannya sebaik mungkin untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Namun, ada juga waktu di mana seseorang mengalami penurunan semangat, sibuk dengan pekerjaan, mengurus keluarga, mencari nafkah, atau menghadapi berbagai kesibukan duniawi lainnya. Dalam kondisi keimanan yang sedang menurun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk tetap berpegang teguh pada kewajiban dan sunnahnya.
Sekalipun hati tidak selalu berada dalam puncak keimanan, seorang muslim harus memastikan bahwa ia tidak meninggalkan kewajiban serta menjauhi larangan-larangan Allah. Dengan cara ini, ia tetap berada di jalur yang benar meskipun sedang mengalami masa futur (kemerosotan iman).
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
إنَّ لكلِّ عملٍ شِرَّةٌ ولكلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فمن كانت شِرَّتُه إلى سنَّتي فقد أفلح ، ومن كانت فَتْرَتُه إلى غيرِ ذلك فقد هلكَ
“Setiap amal memiliki masa semangat, dan setiap semangat ada masa penurunannya. Barangsiapa yang pada masa penurunan semangatnya tetap mengikuti sunahku, maka ia telah beruntung. Dan barangsiapa yang pada masa itu, menyimpang darinya, maka ia akan binasa.” (HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah)
Warisan Inspirasi Untuk Keluarga Indonesia