Amat Samawa: Perang Muktah adalah salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan dakwah Islam, terutama dalam konteks hubungan Islam dengan kekuatan dunia saat itu: Kekaisaran Romawi Timur atau Byzantium. Terjadi pada tahun 8 Hijriah (sekitar 629 Masehi), perang ini bukan hanya sekadar benturan militer biasa. Ini adalah awal dari konfrontasi besar antara umat Islam yang tengah bangkit dan kekuatan superpower dunia yang telah mapan selama berabad-abad.
Artikel ini akan mengupas secara mendalam kisah Perang Muktah: dari latar belakang, strategi militer, tokoh-tokoh penting, hingga warisan sejarahnya bagi umat Islam dan dunia.
Salah satu penyebab utama terjadinya Perang Muktah adalah dibunuhnya utusan Rasulullah ﷺ, al-Harits bin Umair al-Azdi, oleh penguasa wilayah Busra di bawah kekuasaan Romawi Timur. Dalam tradisi Arab dan juga dunia internasional kala itu, membunuh utusan diplomatik adalah pelanggaran berat dan penghinaan terhadap negara atau pihak yang mengirimnya.
Rasulullah ﷺ sangat mengecam tindakan ini. Sebagai pemimpin negara Madinah, beliau tidak tinggal diam. Sebuah ekspedisi militer pun disiapkan untuk menuntut balas atas penghinaan tersebut, sekaligus untuk memperlihatkan bahwa negara Islam adalah kekuatan yang harus diperhitungkan.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Rasulullah ﷺ menunjuk tiga komandan secara berurutan untuk memimpin pasukan sebanyak 3.000 orang, jumlah yang cukup besar pada saat itu. Ketiga komandan itu adalah:
Strategi ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat memperhitungkan skenario perang yang mungkin terjadi. Ketiga pemimpin ini adalah tokoh-tokoh yang kuat secara spiritual dan militer, serta memiliki loyalitas tinggi kepada Islam.
Pasukan Muslim yang hanya berjumlah 3.000 orang harus menghadapi pasukan Romawi Timur yang diperkirakan mencapai 100.000 hingga 200.000 orang, termasuk pasukan Arab Kristen Ghassan yang menjadi sekutu Romawi.
Muktah, sebuah wilayah di dekat Syam (sekarang Yordania), menjadi saksi pertemuan dua kekuatan yang sangat tidak seimbang secara jumlah. Namun, semangat jihad dan keimanan pasukan Muslim tidak surut.
Perang pun pecah dengan dahsyat. Tiga komandan utama yang ditunjuk Rasulullah ﷺ gugur satu per satu di medan tempur:
Gugurnya tiga komandan utama dalam satu hari adalah tragedi besar, namun juga menjadi simbol kepahlawanan dan pengorbanan luar biasa dalam sejarah Perang Muktah.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Setelah ketiga komandan utama gugur, pasukan Muslim hampir kehilangan arah. Namun, seorang panglima baru muncul yang berhasil menyelamatkan situasi: Khalid bin Walid.
Dengan kecerdikan militernya, Khalid menyusun strategi bertahan lalu melakukan taktik ilusi militer, seperti mengganti posisi pasukan depan dengan belakang dan mengganti panji untuk menimbulkan kesan pasukan baru datang. Strategi ini berhasil mengecoh pasukan Romawi.
Khalid kemudian memimpin pasukan mundur dengan teratur dan selamat kembali ke Madinah. Karena jasanya, Rasulullah ﷺ memberi gelar “Saifullah” (Pedang Allah) kepada Khalid bin Walid.
Ketika pasukan kembali ke Madinah, sebagian kaum Muslimin mencemooh karena mengira pasukan itu lari dari medan perang. Namun Rasulullah ﷺ membela mereka dan menyampaikan bahwa mereka bukan mundur karena takut, melainkan karena strategi untuk menyelamatkan umat Islam.
Dalam suasana duka, Rasulullah ﷺ juga sangat sedih mendengar gugurnya ketiga komandan. Dalam riwayat, beliau bahkan menyampaikan berita syahid mereka kepada para sahabat sebelum kabar resmi sampai di Madinah, menunjukkan wahyu langsung dari Allah.
Perang Muktah menyimpan banyak pelajaran yang relevan hingga saat ini, di antaranya:
Meskipun tidak meraih kemenangan militer mutlak, Perang Muktah adalah kemenangan moral bagi umat Islam. Romawi Timur mulai menyadari bahwa kekuatan Islam bukan sekadar kumpulan suku Badui, tetapi bangsa dengan struktur militer, moral, dan semangat jihad yang kuat.
Beberapa tahun setelah Perang Muktah, umat Islam berhasil menaklukkan wilayah Syam dalam era Khulafaur Rasyidin, termasuk pertempuran besar seperti Yarmuk di bawah komando Khalid bin Walid.
Perang Muktah adalah salah satu pertempuran paling epik dalam sejarah awal Islam. Meskipun kalah secara jumlah, pasukan Muslim menunjukkan semangat, keberanian, dan taktik yang membuat musuh gentar. Ini bukan sekadar peristiwa militer, tetapi juga penegasan posisi politik, spiritual, dan strategis umat Islam di tengah percaturan dunia.
Bagi kita hari ini, kisah Perang Muktah mengajarkan bahwa keberanian, strategi, dan keyakinan adalah kunci dalam menghadapi tantangan besar — baik secara individu, komunitas, maupun bangsa.
Warisan Inspirasi Untuk Keluarga Indonesia