Agus Nurmansyah, seorang anggota polisi yang berdinas di Kulon Progo, Yogyakarta, memiliki kesibukan lain di luar tugasnya sebagai penegak hukum. Di waktu luangnya, ia mengelola peternakan bebek di desanya, Panjatan. Berawal dari berbagai pengalaman mencoba usaha lain seperti berjualan es dan menanam bawang merah, Agus akhirnya menemukan passion-nya dalam beternak bebek.
Menurut Agus, beternak bebek adalah pilihan usaha yang efisien karena hanya memerlukan waktu perawatan di pagi dan sore hari. Di pagi hari, ia membersihkan tempat minum, memberi pakan, dan mengumpulkan telur, sedangkan di sore hari ia kembali untuk mengambil telur serta membersihkan kandang. Dengan sistem ini, pekerjaannya sebagai polisi tidak terganggu.
Beternak bebek tidak hanya menjadi sumber pendapatan tambahan bagi Agus, tetapi juga menjadi sarana interaksi dengan masyarakat sekitar. Saat berkunjung ke sawah atau kandang peternak lain, ia sering berbincang mengenai isu keamanan desa, keberadaan pos ronda, serta tanda-tanda aktivitas mencurigakan. Dengan demikian, Agus tidak hanya menjadi peternak, tetapi juga berperan sebagai penghubung antara masyarakat dan kepolisian.
Sebagai anggota kepolisian, Agus juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Ia mengajak masyarakat untuk tetap semangat bekerja dan memanfaatkan potensi lokal, seperti bertani atau beternak, agar dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Agus memilih bebek jenis Mojosari karena terkenal kuat terhadap perubahan cuaca dan memiliki masa bertelur lebih dari satu tahun. Kandangnya dirancang agar mudah dalam perawatan, sementara kolam lele yang ditempatkan di bawah kandang berfungsi untuk mengurangi bau serta menambah penghasilan.
Ia membudidayakan sekitar 24.000 ekor lele di tiga kolam berbeda untuk memastikan panen tidak terjadi secara bersamaan. Dengan sistem ini, Agus bisa mengoptimalkan keuntungan dari dua sumber sekaligus, yaitu telur bebek dan panen ikan lele.
Dalam hal pakan, Agus memilih pakan jadi agar lebih praktis dan memastikan kualitas telur lebih baik. Ia menjelaskan bahwa telur dari bebek yang diberi pakan jadi memiliki warna kuning yang lebih oranye, lebih diminati pasar dibandingkan telur dengan kuning pucat.
Seperti usaha lain, beternak bebek juga memiliki tantangan. Salah satu kendala utama adalah bau kandang. Namun, Agus berhasil mengatasinya dengan belajar dari media sosial dan menerapkan penggunaan obat penghilang bau yang aman bagi bebek. Selain itu, penyakit seperti flu burung juga menjadi ancaman, namun ia memastikan bebek yang dipelihara telah divaksin sehingga risiko kematian bisa ditekan.
Pada awalnya, usaha ini belum langsung menguntungkan. Di bulan pertama, produksi telur masih rendah, sehingga belum cukup untuk menutup biaya pakan. Setelah memasuki bulan kedua, tingkat produksi telur meningkat, dan akhirnya usaha ini mulai menghasilkan keuntungan bersih sekitar Rp800.000 per panen.
Agus ingin memberikan inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak mudah terjerumus dalam kebiasaan buruk seperti judi online. Menurutnya, lebih baik mengisi waktu dengan usaha produktif yang bisa memberikan manfaat jangka panjang.
🔴 AD - Klik gambar untuk membeli di Shopee!
Ia juga membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin belajar beternak bebek. Melalui akun TikTok “An Farm Kulon Progo”, Agus mengajak masyarakat untuk datang langsung ke peternakannya dan belajar bersama.
Harapannya, usaha ini dapat menjadi contoh bagi warga desa untuk meningkatkan perekonomian mereka sendiri, tanpa harus bergantung pada pekerjaan formal semata. Dengan semangat kerja keras dan inovasi, Agus membuktikan bahwa beternak bebek bukan hanya sekadar pekerjaan sampingan, tetapi juga sumber penghasilan yang menjanjikan.
Warisan Inspirasi Untuk Keluarga Indonesia